Selasa, 26 Jun 2012

JAROE, HARAPAN atau RINTANGAN?

Foto bersama penggagas lembaga JAROE
Tempo hari, 24 juni 2012 di KRAK society tak dapat dipungkiri bahwa puluhan seniman Rupa Aceh berkumpul karena satu ‘kemungkinan‘ yang pada dasarnya merupakan geliat kegelisahan yang terlalu lama bungkam. Hari itu beragam komunitas Rupa bahkan perupa individual yang terus berkarya visual -karena panggilan jiwa tak mungkin dielakkan- terlihat sangat antusias dalam pertemuan ini, kemudian sadar atau tidak, sengaja atau tidak, pertemuan ini kemudian disebut sebagai titik temu kepedulian terhadap kesenirupaan Aceh.

Betapa tidak waktu yang terlalu singkat ini menjadi tolak ukur kesenirupaan Aceh kedepan. Hal ini terekam dari ungkapan-ungkapan para perupa Aceh yang telah jenuh menjadi perupa yang ‘diompongkan’. Walau terkadang pernyataan keras mereka adalah ungkapan hati dan carut marut kekecewaan, namun itulah namanya kejujuran dalam mengekspresikan kegelisahan. Jujur saja, sebenarnya diam pun yang mereka lakukan sebenarnya jauh lebih banyak bicara daripada berbicara itu sendiri.


Lalu mengapa hari itu mereka meluangkan waktunya? Jawaban dari pertanyaan ini adalah karena didasari pada latar belakang yang tak jauh berbeda. Satu benang merah yang paling jelas yang saya tangkap sehingga jiwa perupa Aceh ini terpanggil adalah karena miskinnya apresiasi terhadap karya mereka (baca: mereka sendiri) meskipun ada persoalan-persoalan lain yang tak juga begitu mudah disepelekan, bisa saja semacam kecemburuan ataupun kekecewaan terhadap Dewan Kesenian yang memberi nilai lebih atas kegamangan yang mereka rasakan.

Secara pribadi, Saya sebagai penikmat seni rupa sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan persoalan-persoalan demikian. Tapi itu dulu! Namun belakangan saya mulai merasa terusik dan bahkan terpukul juga kadang-kadang terlalu sering ada niat untuk menjadi separatis keadilan kesenirupaan –kalau bisa disebut demikian-. Hal ini karena berawal dari bingkai pengalaman saya sendiri.

Perkenankan saya mencurah kisah dalam catatan singkat ini. Awal bulan Mei lalu, kebetulan menjelang Hari Pendidikan Nasional, saya bersama dengan teman-teman club desain grafis kampus KPI Ar-raniry akan merencanakan pameran desain grafis, kemudian menggandeng komunitas Fotografi untuk pameran bersama, dan mereka menanggapi positif. Layaknya sebuah kegiatan, tentu saja memiliki konsep dan tujuan yang mantap. Tapi setiap perjalanannya tidak selalu mudah, kami sama sekali tidak mendapatkan dukungan yang nyata dari akademisi, apapun itu, jangankan dana dorongan semangatpun tidak! Walau demikian, karena api telah melecut, jangan biarkan mereka padam, hingga sampai akhirnya mereka melakukan pameran dengan sederhana (baca: apa adanya) dengan acuan konsep yang terpaksa pula disederhanakan dalam konteks yang berubah  (sebenarnya berniat untuk pameran HARDIKNAS, karena persoalan tidak ada apresiasi maka berubah niat menjadi pemberontakan dengan cara pameran agar mereka tau kalau club ini tidak omong kosong!)

Setiap mekanisme pameran juga telah disiapkan sesuai dengan job description yang ditentukan tiap anggota club yang kemudian kami sebut sebagai tim penggerak. Salah satunya adalah mencoba melibatkan rekan-rekan media turut serta mempublikasikan acara sederhana ini, baik itu media cetak, online, radio bahkan televisi. Dan yang membuat paling sakit hati dan kesal mendalam adalah mereka (para dosen) mengambil bagian dalam upaya dan kerja keras ini sebagai bagian dari kinerja Kampus, mereka mengumbar kebohongan-kebohongan yang mereka ciptakan sendiri dibalik keringat dan jerih payah dan pengorbanan yang telah kami lakukan! Bukankah itu menjijikkan? Terkait pengalaman itulah saya tergerak untuk memperjuangkan ketidakadilan ini.

Kembali pada persoalaan pertemuan di KRAK society. Karena beberapa alasan diatas, Pertemuan ini semakin megarah pada pembentukan lembaga, karena telah muak dianaktirikan oleh Dewan Kesenian, maka lahirlah “JAROE = Jariangan Aneuk Rupa nanggrOE” yang menjadi pilihan tepat sebagai nama lembaga yang menaungi komunitas Perupa di Aceh. JAROE adalah Perserikatan, itu yang saya pahami.

JAROE menjadi penaung terhadap komunitas perupa atau perupa yang bergerak secara individual, baik itu Komikus, Pelukis, Kartunis, Ilustrator, Fotografer, Bomber, Desaine Grafis dan Pematung. Saya dari awal telah berpikir bahwa dengan perbedaan-perbedaan yang sangat kontras ini apakah sebenarnya kita mampu bertahan dalam naungan yang sama yang bernama JAROE ini?

Dari awal pula saya telah mengintip persoalan-persoalan yang sama tiap-tiap perupa begitupun juga saya, yaitu tentang aktualitas diri, bahwa sebenarnya kita hanya butuh diperhatikan karena merasa kita dikucilkan. Kita bagai bocah ingusan yang mencari perhatian ibu dengan menangis lalu bertingkah semaunya atau bagaikan rakyat yang harus menjadi militan perang yang memberontak terhadap pemerintahnya karena keacuhan dan ketidakadilan mereka dan dalam konteks ini kita kenal sebagai Dewan kesenian.

Dari situlah Saya melihat Fadhlan Bahktiar memanfaatkan kegelisahan yang telah menggumpal ini menjadi energi pemersatu, antusiasme yang tak harus dibendung oleh perupa kemudian mengukuhkannya hingga bersusah diri menyebabkan pertemuan ini. Llu kegelisahan ini meledak dengan teratur yang melahirkan JAROE.

Terus terang jauh sebelum itu, saya juga telah mewacanakan hal ini kepada Tauris Mustafa yang saya percaya mampu menampung kemelut yang sama. Menurutnya, perkumpulan seperti itu sangat baik. Bahkan harus! Hanya saja saya mendapat pernyataan yang paling prinsip atau bisa saya sebut nasihat hebat darinya. “Nasry punya keluarga sendiri (PANYOET) sementara Abang juga punya keluarga sendiri (Apotek Wareuna),... ” saya tau jelas makna yang diungkap dari pernyataan Tauris Mustafa. Dengan bebas –melihat konteks- saya dapat memaknai kalimat itu berarti bahwa, bagaimanapun kita telah berada dalam naungan yang sama yaitu JAROE, kita tak akan pernah bisa melebur menjadi satu. Karena kita adalah persatuan bukan kesatuan hingga tak dapat dibedakan.

Lebih dari itu sebenarnya, JAROE tidak memiliki wewenang apapun terhadap komunitas ataupun perupa didalamnya, namun sebaliknya, komunitas atau perupalah yang harus mewenangi JAROE agar terus hidup dan menghidupi perupa yang telah melahirkannya bahkan yang tidak. Dan itu hanya dapat dijawab oleh perjalanan waktu, karena sesungguhnya perbedaan dapat mempersatukan sehingga kita bertahan bahkan sebaliknya malah perbedaan yang memaksakan kita harus hengkang.

Selamat datang ke dunia, JAROE !!!

Rasnadi Nasry
KETUM PANYOET

7 ulasan:

  1. Benih lama, Muncul kembali, semoga tetap abadi, konsekwensi untuk kita sehati , JAROE (Jaringan Aneuk Rupa Nanggroe)

    BalasPadam
  2. Sebagai penikmat seni saya menyambut riang gembira plus gegap gempita kelahiran JAROE ini :) SELAMAT LAHIR KE DUNIA JAROE....!

    BalasPadam
  3. Benar Syukran jazila. terimaksih doanya, semoga terus berjaya dalam kesenirupaan yang terliputi oleh JAROE. Amin dan Aminkan

    BalasPadam
  4. Terima kasih Wanna Be Inspiring... ^_^
    ini kak Aini yaa?? oohh,,, Terimaksih kak aini, Terus berbagi karya ya kak. ditunggu lho komik terbarunya.

    BalasPadam
  5. SESUATU deh!
    Biar ana nggak bisa ngegambar, ana tetap dukung atas lahirnya JAROE. Terus jaya, Panyoet!
    ^0^

    BalasPadam
  6. Ahaha,,, Seseuatu ya isni?
    Yups... Thanks... Semangat terusnya tolong tularkan ya isniii.. ^^

    BalasPadam
  7. Wah..pengen gabung. Gimana caranya? :D

    BalasPadam

Beri jejakmu di sini. Terimakasih. ^_^