Memaparkan catatan dengan label Inspiratif. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Inspiratif. Papar semua catatan
Sabtu, 17 November 2012
Rabu, 14 November 2012
Seniman Muda Aceh Tidak Munafik
“Aceh
tak akan pernah berpikir jika kita -sebagai warganya- tak berpikir!”
![]() |
| Lukisan Oleh : Tu-ngang Iskandar |
Statment
ini muncul di sela-sela diskusi terhadap ranah kesenian ala warung kopi malam
itu. Membahas kesenian bagi saya adalah hal yang paling sensitif, mengingat
kekinian pergolakan politik Aceh yang semakin hari semakin unik saja dan terus
menggerus kesenian. Kesenian masih dianggap sebagai persembahan yang temporial
dan hanya dapat diekspose pada waktu-waktu tertentu saja, sebutlah seperti
sebuah acara kenegaraan, menyambut hari besar atau apalah namanya. Saya mengubah posisi duduk dan memasang kuping agar
bisa lebih peka mendengar diskusi bebas itu karena berbagi dengar dengan suara
tayangan bola kaki. Ini semakin menarik saja.
Sistem
pemerintahan yang sedang kita hadapi saat ini adalah carut marut politik yang
busuk, kehidupan kita jalani sekarang ini adalah imbas dari sistem kacau itu
yang merambah ke perut seniman, Perupa khususnya. Miris ketika saya mendengar
seseorang yang berbakat dan potensial dalam melukis justru menafkahi diri
dengan jualan kelapa muda atau menjadi tukang tambal ban. Bukan hal demikian tidak
boleh, hanya saja mengapa kemampuan itu tidak diberdayakan dan didukung
semaksimal mungkin. Yang saya tangkap dalam diskusi ini, ternyata jawabannya
klasik. Lagi-lagi Pemerintah yang menjadi borok kesalahan ini. Apakah seniman
menjadi korban? Dari apa yang saya dapat pahami dalam diskusi warung kopi itu
ternyata banyak katagori seniman di Aceh ditilik dari kepentingannya.
Pertama
adalah Seniman Aceh menganggap dirinya -sadar tidak sadar- telah menjadi korban
dari dari sistem yang telah terbentuk. Mereka menganggap dirinya telah dikucilkan
sistem pemerintahan, Hal ini dapat kita buktikan dari beberapa pengalaman perih
yang dialami, mulai dari ketidakpedulian bahkan melarang kebebasan
mengeksplorasi seni pada wadah yang seharusnya mereka berada. Misalnya Taman Budaya atau Taman Ratu Safiatudin. Sikap tak acuh ini akhirnya menjadi bara
api dan dendam, Pemerintah menjadi musuh karena memandang seniman sebelah
mata.
Kedua
adalah Seniman Muda Aceh justru tidak mengganggap keberadaan pemerintah sebagai
generator yang memulai segalanya, justru merekalah pemantik apinya. Mereka
terus mengekpresikan diri dan komunitasnya di luar iming-iming kucuran dana
dari pemerintah. Mereka sama sekali tidak peduli dengan apa dan bagaimana
pemerintah bekerja terhadap mereka, peduli atau tidak itu tidak menjadi ukuran
terhadap aktifitas pengkaryaan mereka. Ideologi ini menjadikan mereka kokoh dan
tak mudah dipermainkan dalam arti mereka akan terus berkarya walau tanpa
bantuan sekalipun.
Ketiga
adalah Seniman pemerintah, Seniman yang khusus mendapat perlakuan istimewa dari
pemerintah, mereka dibiayai dengan dana dan fasilitas-fasilitas pendukung
lainnya. Mereka akan menjadi persembahan utama dalam setiap pertunjukan dan
pameran yang dilakukan pemerintah. Namun jika event tidak ada maka merekapun
lenyap entah berantah, Tak heran pertunjukan yang persembahkan begitu sangat
tidak profesinal, karena orientasi
mereka adalah ‘Money’.
Dimanakah
posisi kita saat ini, mungkin ada katagori lainnya atau bahkan tidak ingin dikatagorikan?
Memang
berbicara kesenian Rupa di Aceh adalah hal yang pelik. Hal ini patut
dikhawatirkan mulai dari ranah akademisi bahkan agama. Di dunia Akademisi
misalnya, Coba sebutkan satu saja sekolah seni atau Perguruan
Tinggi/Universitas yang memiliki Fakultas kesenian dan Jawabannya Mutlak, Tidak
Ada! Walau beberapa tahun lalu pernah
diwacakan akan mendirikan Akademi Kesenian Aceh atau AKA, Namun buktinya
sekarang gaungnya saja bagai ditelan bumi.
Selain
itu ajaran agama –Syariat Islam- menjadi seperti tameng terhadap aktifitas
kreatif, padahal bukankah bakat adalah anugerah? Terus terang saya belum
mengerti apakah itu benar atau hanya sebagai dalih saja. Saya pernah mendengar
kalau patung itu dilarang di Aceh karena alasan bertentangan dengan kearifan
lokal dan Syariat Islam. Jikapun peraturan itu benar dan harus diterapkan
mengapa di beberapa titik justru berdiri megah, beberapa mainan kuda-kudaan dan
gajah-gajahan di taman-taman kota adalah patung bukan, manekin yang ada di toko-toko pakaian juga patung, kan!?
Terlepas
dari segala hambatan dan kekakuan yang masih saja mengotak-kotakkan seniman di
Aceh Saya pikir yang perlu dipikirkan dan dikerjakan adalah menyusun kekuatan
dengan terus berkarya, terus dan terus.
by. Rasnadi Nasry
Ketum PANYOET
Rabu, 7 November 2012
Khamis, 1 November 2012
MENUAI KACANG
Beberapa kali hand phone
saya berdering siang itu, Tenyata ketua Jaroe
-Fadhlan Bachtiar- menghubungi saya. Dari komunikasi
melalui udara itu berorientasi kepada pertemuan komikus yang terhimpun di Jaroe, ada hal yang sangat urgen untuk dibahas sepertinya. “Pukul
empat sore kita udah di Paknek Kupi ya, bawa beberapa perwakilan dari Panyoet”
begitu katanya dari seberang. Kontan saya penasaran, ada apa kiranya?
Selasa, 16 Oktober 2012
Selamat Ulang Tahun yang Pertama Panyoet
"Saatnya bakar-bakar!!" Kami sumringah setelah memarkirkan motor di lokasi rihlah, - Ujong batee- Salah satu objek wisata bahari yang tak jauh dari kota Banda Aceh. Semua kebutuhan perlengkapan sudah diturunkan, Piring, tikar, segalon air, buah dan tentu saja hidangan utamanya: potongan-potongan ayam yang siap dipanggang di atas bara api, Namun seketika itu juga rona wajah ceria kami berubah 180 derajat setelah kami menyadari tidak membawa pangangan, bahkan pisau untuk membelah buah semangka, bahkah korek api sekalipun. dan tentu saja ini bukan hal yang bisa disebut menyenangkan. lalu apa yang harus kami lakukkan terhadap ayam-ayam penganguran ini?
Sesuai dengan kesepakatan minggu 14 okt 2012, Panyoet akan mengadakan rihlah sekaligus
Khamis, 19 Julai 2012
Tips Ramadhan Ceria!
Ramadhan nggak boleh identik dengan
lemes. Ramadhan kali ini harus penuh dengan warna. Dan, taraaaaaaaaaaaa!
Ramadhan asik binti ceria dataaaang…!
Salam Panyoetista, gimana dengan persiapan Ramadhan
kamu? Sudah ada rencana mau ngapain? Wah, pasti sebagian dari kamu sudah punya
agenda donk. Dan pasti seru bisa bikin Ramadhanmu ceria abis.
Buat kamu yang belum punya agenda apa-apa nih, yuuk
nimbrung bareng Club Comic Panyoet Aceh. Karena kami bakal bagikan beberapa
tips buat ngisi agendamu yang kosong, dan tentu bikin kamu ceria, nggak lesu
apalagi letoy, dan pastinya puasamu jadi nggak terasa sampe ngebuburit. Wah,
apakah itu?
1. Ngisi waktumu dengan mengunjungi toko
buku, bisa buat nambah koleksi dan wawasan kamu. Bagi kamu yang lagi minim uang
saku, bisa tuh kunjungi rumah peminjaman (atau kita kenal rental) novel atau
komik. Buat sebagian dari kita tentu novel dan komik bukan barang asing. Ahaaa!
Pasti!
Nah, membaca bisa membuat puasamu tetap ceria dan
dapat ilmu baru pastinya. Asik!
Saran sih, kamu bisa ngelirik komik
salah satu anggota Panyoetista HasbiallahYusuf, komik
yang lucu abis dan dijamin bikin
puasamu jadi rame. Wow!
Buruuuuan! Hehe
2. Selain dengan membaca, boleh donk
lemesin tangan, eiits bukan lemesin badan yaaw, tapi lemesin tangan. Aha!
Kalimat itu biasa kami gunakan untuk menggambar, istilah lain dari pemanasan.
Hiaaaak! Wkwk…
Nah, diantara kalian mungkin ada yang
gemar coret-coret, boleh tuh kembangin bakatnya
dengan berlatih menggambar. Coba-coba
garap komik misalnya, nggak usah yang berat-berat dulu, misalnya komik strip
(buat contoh bisa nih belajar dari karyanya Panyoetista: komikstrip). Atau dari sebagian kalian ada yang suka nulis.
Ah! Itu bisa juga, kayak kami ini nulisin blog buat kamu-kamu. Gimana?
Oke kan?
Kalau kalian lagi miskin ide, adu duu
pasti sebel banget kan? Eeiits, jangan sebel-sebel dulu nanti puasamu
tidak asik lagi. Hhmn, gimana kalau untuk idenya pakai tema sekitaran puasa.
Tentu donk puasa di daerahmu beda-beda dengan daerah kami (Aceh). Misalnya
rutinitas warga kampung kamu saat membangunkan warga pakai TOA meunasah, atau
ada yang pakai odong-odong keliling kampung sambil putar lagu kasidah, ‘jilbab
jilbab putih…’. Ooops! XD
3. Buat kamu yang penasaran dengan
perkembangan kemampuan gambarmu sejauh mana dibandingkan teman lainnya. Asik
tuh kalau berkunjung ke blog atau situs komik indie seperti www.ngomik.com atau
devianart untuk membandingkan kemapuanmu. Tentunya setiap orang miliki sudut
pandang yang berbeda, dengan kemampuanmu menilai kekurangan dari teman bisa
saja kamu melahirkan karya yang lebih bagus dari mereka. Gimana? Berani? Pasti
donk.
Intinya belajar dan tetap semangat. Sssst! Mumpung
baca-baca di ngomik.com masih gratis. Wkwkwk.
Dan kamu bisa jadi anggota juga lho.
:O
Bosan dengan suasana kamar? Gimana
kalau pindahkan kamarmu ke mesjid. Ooow, maksudnya kamu lho yang ke mesjdi.
Sekalian manen pahala dan huting gambar di sana. Ahahaha….
Eeh, pernah ketemu bapak-bapak yang gelagapan pas
henponnya bunyi ketika sedang shalat?
Gimana ekspresinya? Wkwkwk…
Atau pas lagi shalat ada kejadian
terjun payungnya si cicak tepat ke muka seseorang.
Wkwkwk…
Nah! Bisa buat ide gambar kamu kan?
Ssth… jangan-jangan kamu sendiri yang sedang asyik perhatikan kesalahan orang,
malah pakai mukena sebagai sarung. Gimana tu ya? #bayangin
sambil ngakak. Wkwkwk… XD
3. . Buat nambah pahala, kamu bisa berbagi
kasih dengan mereka yang membutuhkan bantuan. Bisa dengan mengunjungi panti
jompo. Atau bermain bersama adik-adik di panti asuhan. Atau sekedar duduk
mengeja alif ba ta dengan anak pemulung yang putus sekolah. Tentu mereka
merindukanmu, dan kami juga (panyoetista). ^_^
Serta kegiatan ibadah lainnya yang
bakal membanjirin pahalamu di bulan Ramadhan yang mulia ini. Yang pasti,
kudu tetap berbagi kasih walau dengan sebuah senyuman.
Semangaaaaaaaaaaaaaaat!
Gimana dengan tips Ramadhan asik binti ceria? Udah tau
mau ngapain kan? Kalau gitu, cemunguuuuuuuuuuuuuuuuuuuud ya teman-teman. Dan, selamat menunaikan ibadah puasa. ^0^
Isnin, 9 Julai 2012
PANYOET DAN SECUIL PRESTASI
SALAM PANYOETISTA...
Wah apa kabar nih minggu ini? Harus lebih bersemangat yaa. Kali ini saya saya coba sedikit berbagai pengalaman tentang keikutsertaan saya pada PEKSIMINAS XI di kota mataram, 1-6 Juli lalu. Ya tentu saja setelah saya lulus seleksi PEKSIMIDA Aceh Bulan Juni lalu.
Sesuai prosedur dan jadwal tertera di scedule acara dan kegiatan, saya melihat bahwa lomba komik strip akan dilaksanakan di UMM (Universitas Muhammadiyah Mataram) salah satu perguruan tinggi lokasi PESIMINAS selain UNRAM (Universitas Mataram)
![]() |
| Suasana Lomba di Aula UMM |
Oh iya, jadwal yang tertera pada Scedule itu adalah tanggal 5 Juli 2012, hari kamis. Hari rabu siang, kira-kira pukul 13.00 WITA adalah waktu untuk teknikal meeting bagi peserta lomba. Teknikal meeting ini bertujuan untuk menjelaskan kriteria, waktu dan durasi pelaksanaan lomba komik strip. Hal ini agar menyamakan persepsi tiap-tiap peserta lomba. Sehingga menghindari kesalahpahaman dan kemungkinan-kemungkinan yang tidak diharapakan.
![]() |
| Pameran karya yang sudah selesai di lobi UNRAM (Universitas Mataram) |
Pada tangkai lomba ini ternyata ada 3 dewan juri, Salah satunya Beng Rahadian, masih ingat kan?? selain itu ada Toni dan Iwan Gunawan. Wah padalah saya berharap dapat bertemu dengan Bang Beng di Akademi Samali. Tapi yaaa... akhirnya kita berjumpa disini J sebagai peserta dan dewan juri. hehehe
Beberapa hal yang menjadi perhatian saya adalah teknikal meeting ini hari itu adalah mengenai katagori penilaian terhadap karya, di antaranya adalah Gamaar hasil karya merupakan komik Strip. Menurut Beng Rahadian komik Strip adalah komik sekali baca tuntas. Artinya tidak perlu membuka lembar baru yang harus memaksa kita mengetahui jalan ceritanya. “itu buku komik namanya” Selanjutnya gambar boleh diwarnai atau hitam putih. Sementara waktu yang diberikan hanya 4 jam. Sejak pulul 9 hingga pukul 13.00 WITA. Oh iya media Gambarnya berupa kertas karton dengan ukuran 40x60 cm. Selanjutnya dalam komik Strip boleh menamakan karakter komik yang kita buat dan gaya gamabarnya bebas. Namun yang paling substansi dari semuanya adalah pesan komunikasi dari komik ini yang berhubungan dengan tema. Nah,,, ini yang menjadi garis batas karena tema akan disampaikan pada saat menit pertama pelaksaanaan lomba. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi peserta lomba, tak terkecuali saya. Namun juri hanya memberi sedikit clue “Pokoknya bacalah koran hari ini dan besok, Siapa tau dapat inspirasi” karena komik strip adalah karya yang bisa di muat di koran atau tabloid.
![]() |
| Foto Bersama Kontingen Aceh - Senggigi beach |
Esok harinya saya meminta pertolongan Khairus untuk membeli koran,
Khairul adalah mahasiswa UNRAM (Universitas Mataram) yang menjadi LO untuk kontingen Aceh. Selai Siti, Iwan, dan herman. Meraka dalah kawan baru yang disiplin dan bertanggung jawab. Tidak seperti saya yang terlambat pada saat perlombaan, walaupun demikian saya bukan satu-satunya yang terlambat.
Khairul adalah mahasiswa UNRAM (Universitas Mataram) yang menjadi LO untuk kontingen Aceh. Selai Siti, Iwan, dan herman. Meraka dalah kawan baru yang disiplin dan bertanggung jawab. Tidak seperti saya yang terlambat pada saat perlombaan, walaupun demikian saya bukan satu-satunya yang terlambat.
Syukurnya lomba belum dimulai hanya saja peserta lain lebih dulu tiba dan segala perlengkapan lomba telah dibagikan. Yaitu berupa 2 kertas A2, dan 1 buku gambar A3. Untuk melepas risau dan menghibur diri saya coba menyapa beberapa peserta lain, namun saya lupa nama-nama mereka selain Dhea salah satu peserta perempuan, dia dari palembang. Dia adalah peserta PEKSIMINAS X di pontianak Kalimantan Barat dua tahun lalu. Darinya pula saya mendapatkan tips dan trik memanfaatkan waktu.
| Penyerahan Tropi oleh Mentri Pariwisata |
Bagi saya sendiri PEKSIMINAS merupakan Event Terbesar saat ini selama saya bergelut di ranah gambar-menggambar, dulu saya sering mengikuti event se-kelas kampus dan tingkat daerah saja. Saya pikir PEKSIMINAS jauh lebih bergengsi. Bagi Saya PEKSIMINAS XI di mataram adalah Event nasional pertama yang saya ikuti, tidak seperti Dhea yang sudah berpengalaman.
Saya agak canggung dan tak berharap lebih, hanya seorang mahasiswa komunikasi di IAIN Ar-Raniry. tidak seperti rival lain yang mengenyam pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Diskonvis (desain komunikasi Visual).
![]() |
| Karya Saya |
Panyotista tau?
Tool yang saya gunakan untuk
membuat komik ini selailn pensil dan penghapus saya mengunakan penggaris
buterfly no 10. Drawinng pen 0.3 dan 0.6 , pen gel 0.7 , spidol Snowman. hanya
itu saja.
Seperti yang disarankan Dhea,
agar tidak menghabiskan waktu terlalu
lama, saya harus menyelesaikan keseluruhan Sketsa gambar lalu baru di tinta, saya mengikuti
sarannya dan syrukurlah saya memanfaatkan 4 jam itu dengan baik. Usai Lomba
kemudian saya sempat berfoto dengan Beng Rahadian serta rekan lainnya dalam
Foto bersama. Serta ngobrol sesaat dengan beliau dan Ternyata Bang Beng masih
ingat dengan Panyoet. Komunitas Komik Aceh terhebat Ini.
Akhirnya pada malam pengumuman,
saya memperoleh juara 2 setelah Wawan Sebastian dari Jawa Barat sebagai juara
pertama dan Dwiki Pribadi dari Sulawesi Tengara sebagai juara 3, dan Aceh hanya
mengondol satu-satunya piala dari lomba ini. Setidaknya Aceh tidak pulang
dengan tangan kosong.
Huuftt... Demikian teman2
Pengalaman saya dalam mengikuti lomba. Semoga menginspirasi teman2 panyoet.. :P
Selasa, 26 Jun 2012
JAROE, HARAPAN atau RINTANGAN?
![]() |
| Foto bersama penggagas lembaga JAROE |
Tempo hari,
24 juni 2012 di KRAK society tak dapat dipungkiri bahwa puluhan seniman Rupa
Aceh berkumpul karena satu ‘kemungkinan‘ yang pada dasarnya merupakan geliat
kegelisahan yang terlalu lama bungkam. Hari itu beragam komunitas Rupa bahkan perupa
individual yang terus berkarya visual -karena panggilan jiwa tak mungkin
dielakkan- terlihat sangat antusias dalam pertemuan ini, kemudian sadar atau
tidak, sengaja atau tidak, pertemuan ini kemudian disebut sebagai titik temu
kepedulian terhadap kesenirupaan Aceh.
Betapa tidak waktu yang terlalu
singkat ini menjadi tolak ukur kesenirupaan Aceh kedepan. Hal ini terekam dari
ungkapan-ungkapan para perupa Aceh yang telah jenuh menjadi perupa yang ‘diompongkan’.
Walau terkadang pernyataan keras mereka adalah ungkapan hati dan carut marut
kekecewaan, namun itulah namanya kejujuran dalam mengekspresikan kegelisahan. Jujur
saja, sebenarnya diam pun yang mereka lakukan sebenarnya jauh lebih banyak
bicara daripada berbicara itu sendiri.
Ahad, 17 Jun 2012
Warna dalam Tiap Jejak
Salam
Panyoetista.
Di entri kali ini kita punya
banyak stok warna yang digoreskan oleh malaikat-malaikat kecil dalam lomba
mewarnai dan menggambar.
Acara
ini tersaji dengan tema "Aceh Menulis" oleh FLP (Forum Lingkar Pena) Aceh yang
berlangsung selama dua hari, 16-17 Juni 2012. Bersama FLP Aceh, Club Comic Panyoet
Aceh digandeng dalam agenda lomba
mewarnai dan menggambar sebagai juri.
Wow!
Coba lihat gambar backdrop ini. Sungguh diluar dugaan Cpas! Ternyata benar hasil desain Rasnadi Nasry. Paduan warna yang elegan dengan dua bocah muslim dan
muslimah di sudutnya semakin menyemarakkan acara Aceh Menulis.
Ahad, 10 Jun 2012
Jumaat, 8 Jun 2012
Terus Berkarya Terus Berjaya
Tabik...
Wah, sudah lama ya
rasanya tidak menyapa teman-teman Panyoetista yang selalu semangat untuk terus
menjadi lebih baik. Baik dalam berkarya, baik dalam bersahabat dan tentu saja
baik dalam berbagi. Eemm, kali ini saya mau berbagi cerita gembira nih buat
teman-teman agar makin semangat.
![]() |
| Rasnadi Nasry Asik menggambar komik Strip |
Nah, teman-teman
tau PEKSIMIDA kan? Yak, Pekan Seni Mahasiswa Daerah! Tempo hari 31 Mei 2012,
saya bersama dengan ratusan mahasiswa Aceh turut dalam Acara itu, tentu saja
sebagai peserta lomba. PEKSIMIDA kali ini diikuti oleh 13 Perguruan tinggi di
Aceh dan dilaksanakan di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Oh iya... dari
sekian banyak tangkai lomba, saya mewakili IAIN Ar-Raniry memilih tangkai lomba
Komik Strip Sementara Cut Putri Ayasofia Memilih lomba Lukis.
Ahad, 25 Mac 2012
Atas Nama Cinta
Mungkin sebagian dari kita heran
menemukan seseorang yang rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk
menyelesaikan kerjanya. Ada pula yang meninggalkan ibu serta bapak di kampung dan
merantau memikul secuil harapan. Bagaimana mereka mampu memikul semua itu? Bagaimana
pula dengan para petani yang memikul padi dari ujung sawah dengan pundaknya? Kekuatan
darimana yang mampu mendinginkan terik panas, atau menghangatkan dinginnya
angin malam.
Kekuatan itu bernama cinta. Darinyalah
kekuatan itu lahir dan tumbuh tak mudah tumbang. Cinta yang melahirkan harapan
dan pengabdian kepada siapa mereka persembahkan. Kepada ibu, bapak, istri,
anak, masyarakat dengan generasi yang harus terus kreatif.
Langgan:
Catatan (Atom)












